Sumpah dan Bencana
Bulan Oktober kemarin, Indonesia dikejutkan oleh 3 bencana yang terjadinya hampir bersamaan. Pertama banjir bandang di Wasior, Papua. Kedua tsunami di kepuluan Mentawai dan terakhir meletusnya Gunung Merapi.
Kejadian ini, sungguh sangat memilukan. Di Wasior korban meninggal lebih dari 100 orang, di Mentawai lebih dari 400 orang dan di Merapi hampir 200 orang. Jadi dari tiga bencana itu, kita kehilangan saudara-asaudara kita lebih dari 700 orang. Belum lagi yang luka-luka, kehilangan tempat tinggal dan harta bendanya.
Memang, Indonesia sangat rawan bencana karena berada pertemuan lempengan dua benua dan memiliki banyak gunung api. Hal ini adalah kenyataan yang harus kita terima. Tetapi tidak ada salahnya jika kita melakukan introspeksi terhadap diri kita (pemimpin dan rakyat) atas dosa-dosa yang mungkin menjadi penyebab sehingga Tuhan memberikan peringatan lewat datanganya bencana yang hampir tidak pernah berhenti dari kehidupan bangsa kita.
Dugaan saya, mungkin saja bencana yang terjadi sekarang ini adalah karena sumpah-sumpah yang kita lakukan dan selalu kita langgar. Ada 3 sumpah yang banyak dilanggar oleh bangsa kita.
Yang Pertama : Sumpah Jabatan.
Merupaka satu keharusan, sebelum memangku jabatan apapun di republik ini, harus melakukan sumpah. Sumpah ini menyatakan bahwa akan memegang teguh amanah yang ada, memperhatikan kepentingan rakyat dan tidak menerima apapun yang berkaitan dengan jabatan yang ada.
Tetapi coba kita lihat realita yang ada, bagaimana kepentingan rakyat kita. Kesejahteraannya. Betapa banyaknya rakyat kita yang untuk makan saja harus mengais sampah demi untuk sesuap nasi. Sungguh sangat berbeda dengan kehidupan para pejabat kita. Perbedaannnya bagai langit dan bumi.
Lalu tentang sumpah tidak menerima apapun yang berkaitan dengan jabatan, berapa banyak pejabat yang taat akan sumpah ini? Mungkin kalau malaikat, mau mengumumkan pejabat yang melanggar sumpah ini, rakyat Indonesia bukan hanya kaget tapi mungkin akan pingsan!!!
Yang Kedua : Sumpah Saksi.
Karena uang dan kepentingan, maka sumpah inipun dilanggar. Sebagai akibat yang menang adalah yang salah dan yang benar harus kalah.
Keadaan ini diperparah lagi oleh tingkah laku para hakim kita yang melanggar sumpahnya dalam memutuskan suatu perkara, karena demi uang, uang dan uang.
Pernyataan saya diatas, berdasarkan wawancara di Metro TV dengan para hakim yang terpaksa mengundurkan diri karena merasa risih dengan tingkah teman mereka sesama hakim. Dalam wawancara itu, para hakim menyatakan bahwa praktek suap dikalangan hakim adalah hal yang umum.
Keteguhan mereka yang tidak mau menerima suap malah mendapat cibiran dari teman-teman hakim lainnya sebagai tindakan sok suci. Karena risih maka mereka terpaksa memilih mundur.
Yang Ketiga : Sumpah Pemuda.
Saya memasukkan Sumpah Pemuda ini karena kejadian bencana pada bulan oktober.
Saudaraku, coba kita lihat bersama pelanggaran terhadap sumpah ini. Sumpah tentang bertanah air dan berbangsa yang satu, banyak sekali kita langgar. Hanya karena persoalan sepele terjadi bentrok, antara universitas, antara fakultas yang masih satu universitas, bentrok antara kecamatan, bentrok antar kampung/desa bahkan bentrok antara dusun yang masih satu kampung/desa.
Kerugian bentrokan ini bukan hanya harta, bahkan nyawa harus melayang. Sungguh sangat memilukan hati padahal dua pihak yang bentrok tadi masih ada hubungan famili, masih ada hubungan darah, masih ada hubungan saudara seagama dan yang pasti semuanya masih ada hubungan saudara sebangsa dan setanah air.
Mungkin sudah saatnya semua sumpah itu kita hapus saja dari negara kita yang tercinta ini sehingga tidak ada lagi sumpah yang kita langgar yang menjadi penyebab banyaknya dosa kita. Tapi saya harus berpikir kembali, saat ada sumpah pun keadaannya sudah demikian parah apalagi kalau sumpahnya ditiadakan. Akan jadi bagaimana jadinya?
Sungguh saya sangat bingung!!!
Kejadian ini, sungguh sangat memilukan. Di Wasior korban meninggal lebih dari 100 orang, di Mentawai lebih dari 400 orang dan di Merapi hampir 200 orang. Jadi dari tiga bencana itu, kita kehilangan saudara-asaudara kita lebih dari 700 orang. Belum lagi yang luka-luka, kehilangan tempat tinggal dan harta bendanya.
Memang, Indonesia sangat rawan bencana karena berada pertemuan lempengan dua benua dan memiliki banyak gunung api. Hal ini adalah kenyataan yang harus kita terima. Tetapi tidak ada salahnya jika kita melakukan introspeksi terhadap diri kita (pemimpin dan rakyat) atas dosa-dosa yang mungkin menjadi penyebab sehingga Tuhan memberikan peringatan lewat datanganya bencana yang hampir tidak pernah berhenti dari kehidupan bangsa kita.
Dugaan saya, mungkin saja bencana yang terjadi sekarang ini adalah karena sumpah-sumpah yang kita lakukan dan selalu kita langgar. Ada 3 sumpah yang banyak dilanggar oleh bangsa kita.
Yang Pertama : Sumpah Jabatan.
Merupaka satu keharusan, sebelum memangku jabatan apapun di republik ini, harus melakukan sumpah. Sumpah ini menyatakan bahwa akan memegang teguh amanah yang ada, memperhatikan kepentingan rakyat dan tidak menerima apapun yang berkaitan dengan jabatan yang ada.
Tetapi coba kita lihat realita yang ada, bagaimana kepentingan rakyat kita. Kesejahteraannya. Betapa banyaknya rakyat kita yang untuk makan saja harus mengais sampah demi untuk sesuap nasi. Sungguh sangat berbeda dengan kehidupan para pejabat kita. Perbedaannnya bagai langit dan bumi.
Lalu tentang sumpah tidak menerima apapun yang berkaitan dengan jabatan, berapa banyak pejabat yang taat akan sumpah ini? Mungkin kalau malaikat, mau mengumumkan pejabat yang melanggar sumpah ini, rakyat Indonesia bukan hanya kaget tapi mungkin akan pingsan!!!
Yang Kedua : Sumpah Saksi.
Karena uang dan kepentingan, maka sumpah inipun dilanggar. Sebagai akibat yang menang adalah yang salah dan yang benar harus kalah.
Keadaan ini diperparah lagi oleh tingkah laku para hakim kita yang melanggar sumpahnya dalam memutuskan suatu perkara, karena demi uang, uang dan uang.
Pernyataan saya diatas, berdasarkan wawancara di Metro TV dengan para hakim yang terpaksa mengundurkan diri karena merasa risih dengan tingkah teman mereka sesama hakim. Dalam wawancara itu, para hakim menyatakan bahwa praktek suap dikalangan hakim adalah hal yang umum.
Keteguhan mereka yang tidak mau menerima suap malah mendapat cibiran dari teman-teman hakim lainnya sebagai tindakan sok suci. Karena risih maka mereka terpaksa memilih mundur.
Yang Ketiga : Sumpah Pemuda.
Saya memasukkan Sumpah Pemuda ini karena kejadian bencana pada bulan oktober.
Saudaraku, coba kita lihat bersama pelanggaran terhadap sumpah ini. Sumpah tentang bertanah air dan berbangsa yang satu, banyak sekali kita langgar. Hanya karena persoalan sepele terjadi bentrok, antara universitas, antara fakultas yang masih satu universitas, bentrok antara kecamatan, bentrok antar kampung/desa bahkan bentrok antara dusun yang masih satu kampung/desa.
Kerugian bentrokan ini bukan hanya harta, bahkan nyawa harus melayang. Sungguh sangat memilukan hati padahal dua pihak yang bentrok tadi masih ada hubungan famili, masih ada hubungan darah, masih ada hubungan saudara seagama dan yang pasti semuanya masih ada hubungan saudara sebangsa dan setanah air.
Mungkin sudah saatnya semua sumpah itu kita hapus saja dari negara kita yang tercinta ini sehingga tidak ada lagi sumpah yang kita langgar yang menjadi penyebab banyaknya dosa kita. Tapi saya harus berpikir kembali, saat ada sumpah pun keadaannya sudah demikian parah apalagi kalau sumpahnya ditiadakan. Akan jadi bagaimana jadinya?
Sungguh saya sangat bingung!!!

6 Komentar:
Simpulannya, sebaiknya skarang ini tak perlu lagi ada kata "SUMPAH", kecuali Sumpah Serapa.
Kalau perlu setiap pelantikan pejabat tak perlu mengundang tokoh-tokoh apalah ... yang diundang para rakyat miskin sebagai peringatan "Anda dilantik" untuk mengurus perut mereka! Bukan perut sendiri!!!!
Kalau yang ada tinggal SUMPAH SERAPAH maka bangsa kita kehilangan ciri khasnya yakni KESANTUNAN.
Ide untuk mengundang rakyat miskin pada saat pelantikan adalah ide yang sangat segar.
Saya setuju, sehingga para pejabat akan selalu ingat bahwa banyak rakyat miskin yang harus diutamakan.
Masa sih? Kalau ndak ada sumpah bisa khilangan ciri khas, sumpah dan persatuan agak jauh hbungannya.Klu begitu menyuburkan para penghianat bangsa. Coba direnunkan kembali...
Wah, rupanya anda membacanya kurang teliti.
Coba dilihat komentar 1, dikatakan bahwa tak perlu lagi ada sumpah kecuali SUMPAH SERAPAH.
Lalu saya tanggapi bahwa kalau yang tersisa adalah SUMPAH SERAPAH, maka pasti kita akan kehilangan ciri khas bangsa yakni KESANTUNAN.
Caba anda bayangkan bagaimana jadinya jika yang ada hanya SUMPAH SERAPAH.
Semoga kekeliruan anda bisa anda pahami. Trims.
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda